Posts Tagged ‘movie

07
Feb

He’s Just Not That Into You

“I have this guy, he left me a voicemail at work. So I called him at home. And then he emailed me in my blackberry. And so I texted it to his cell.  And now you just have to go around checking all these different portos, just to get rejected by several different technologies,” cuplikan dialog yang menarik dari film dengan judul yang agak panjang yaitu He’s Just Not That Into You (2009). Film ini diangkat dari sebuah buku populer dengan judul yang sama karangan Greg Behrendt & Liz Tuccillo, terbitan tahun 2005. Keduanya juga dikenal sebagai penulis Sex and the City. Film produksi New Line Cinema  ini mengusung banyak aktor/aktris seperti Ben Affleck, Drew Barrymore, Jenifer Aniston, Ginnifer Goodwin, dan lain-lain. Ramainya artis utama ini terkait dengan beberapa setting pasangan tokoh dengan ceritanya masing-masing. Konsekuensi dari banyaknya setting cerita membuat film ini terkesan sedikit membingungkan karena berganti-ganti cerita. Meskipun demikian, antar tokoh tersebut masih ada keterkaitan pertemanan, sehingga alur cerita tidak menjadi terlalu terpisah-pisah.

Film ini dibawakan dengan model semacam narasi yang dibawakan oleh tokoh yang boleh dibilang cukup sentral yaitu Gigi (Ginnifer Goodwin).  Bergenre komedi romantis, namun tidak benar-benar bernuansa komedi atau benar-benar bernuansa romantis. Cukup untuk membuat tergelitik dan sedikit nuansa romantisme. Adegan awal film ini impresif sebagaimana trailernya, lumayan menggelitik, termasuk beberapa adegan semacam wawancara atas suatu pernyataan dari orang-orang umum yang tidak terkait dengan cerita. Namun di tengah-tengah ada beberapa inkontinuiti yang cukup mengganggu, mungkin ini konsekuensi dari banyaknya tokoh yang tampil. Meskipun demikian, film ini cukup mampu menyampaikan pesan inti dari seni berhubungan, setidaknya dari dua kutub kontradiksi “The Rule vs The Exception” dan “The Truth vs The Lies”. Akhir cerita ini juga bagus, sebuah realita bagaimana cinta itu bertemu atau berpisah. Hal terbaik adalah lepas dari menduga-duga maupun kepura-puraan.

Em, sedikit review tentang bioskop. Ini film tayang perdana di UK tanggal 6 Februari 2009. Dan saya berkesempatan menontonnya hari ini di bioskop Vue, Lancaster. Pas mo beli tiket sempet bingung juga karena ga ada boks tiket. Ternyata boks tiket menyatu sama jualan makanan/minuman. Konsep yang menarik, lumayan memancing orang untuk pesan makanan/minuman setelah beli tiket. Ruangan bioskop lumayan besar, termasuk layarnya. Tata suara OK. Yang jelas sih lebih memuaskan daripada bioskop Odeon di Trafford Centre Manchester. O, ya sama ma yang di Manchester ni bioskop pas jam mulai tayang, ngiklan2 dulu juga, hampir 20 menit. Untung aja masih aga menghibur, ada beberapa iklan mobil yang lumayan lucu n keren.

Kapan ya tayang di Indonesia? Yang jelas sih, ni film masih dalam kategori menghibur, dan juga sedikit mengajak untuk berpikir atau gimana memahami hubungan. Love, or true love perhaps, is not a fairy tale, but a reality, so better make it clear. And still have a hope. Pengen tau lebih jauh apa dan bagaimana, mampir aja di situs resminya di http://www.hesjustnotthatintoyoumovie.com. Meski ada inkontinuiti, mempertimbangkan nilai cerita n deretan aktor/aktrisnya, boleh lah dirating 4 dari 5.

27
Dec

A Good Hero Can Not Possibly Be A Bad Vampire!

Ho.. ho.. akhirnya kesampaian juga nonton ni film. Twilight (2008) yang diangkat dari novel superlaris karya Stephenie Meyer (2005), menarik perhatian yang lumayan besar, minimal bagi fans berat novelnya. Sudah tidak asing lagi, sebuah film yang diangkat dari cerita yang menarik pasti laku keras. Cuma tantangannya ada pada penggarapan film itu sendiri, apakah bisa melampaui ekspektasi pembaca novel aslinya. Imajinasi bacaan kadang lebih kuat, dan bisa membuat film menjadi hambar kalau tidak digarap secara apik. Cerita novel aslinya sendiri sudah berkembang menjadi semacam Twilight Series atau dikenal sebagai Twilight Saga berlanjut dengan New Moon (2006), Eclipse (2007), dan terakhir Breaking Down (2008). Film lanjutannya pun New Moon (2009) saat ini sedang digarap. Bakal ada Harry Potter n Lord of the Ring jilid dua nih, berseri dan berlanjut.

Sebelumnya pengen bahas bioskopnya dulu nih. Nah, jadi saya nonton ni film di Bioskop Odeon di Trafford Center, Mall di Manchester, yang diklaim tergede se-UK. Tapi kayaknya sekarang dah kalah ma Westfield di London. O ya, kalo dibandingin sama Senayan City, Trafford Center mah jadi ga spesial. Tapi kalo yang Westfield boleh deh. Nah, balik ke Odeon lagi. Ni bioskop lumayan okeh dan royal di jumlah pemutaran film. Bayangin aja, dengan 20 layar yang tersedia, dia bisa muter film sebanyak apa? Cuma ya ga sebanyak 20 juga jenis film yang diputer, sekedar lebih bisa variasiin waktu pemutaran film dengan jeda yang lebih cepat. Sistem pemesanan tiket, bisa online, bisa lewat mesin, atau lewat counter. Di papan layar sih ga tertera tu film maen di layar mana, cuma ada info jam dan klasifikasi film (dewasa, remaja, bimbingan orang tua, semua umur). O ya, di UK juga ada LSF, tapi kerjaannya bukan nyensor film, hanya sekedar mengklasifikasikan. Pas beli, nanti di tiketnya baru tercetak di layar mana kita mesti menuju. Karena saya di layar 9, celingak-celinguk deh cari di mana tu layar 9. Agak aneh juga karena di depan pintu masuk tiap-tiap layar ga ada yang jaga. Terakhir sih baru ngeh pas keluar kalo ternyata tiketnya sebenarnya diperiksa di pintu masuk lorong cuma karena maen lewat aja n kebetulan kaga ditanya. Ya mungkin dia liat kalo saya lagi megang tu tiket. Na soal tempat duduk, di situ ga tertera apa pun. Jadi suka-suka mo duduk di mana. Yang jelas yang dateng duluan yang menang. Pas masuk sih masih kurang sepuluh menit dari jadwal, cuma tu ruangan remang-remang gitu. Biasa kalo di Indonesia kan lampunya terangan. Yah ga comfort aja, apalagi ga ada guide. Terusnya lagi iklannya minta ampun banyaknya, jadi pas jadwal mulai film bukan langsung diputer, tapi iklan dulu hampir 15 menit, ampe bosen. Parahnya lagi ga ada teks indonesia di bawah. Ya, jangan diharap, soalnya ni bioskop di negara yang punya bahasa. Sempet miss beberapa percakapan sih, ampe ni otak seolah mo ngehang mencerna what the story is talking, he.

Back to the movie. Saya sih belum pernah baca tu novel Twilight. Jadi pas liat trailernya pun ga tau kalo ni film kayak gimana. Kesannya sih film superhero gitu, malah sempet ngira another version of Smallville, the young Superman. Gimana ngga, bisa nyetop mobil yang mo nabrak, bisa lari super cepet, n bisa terbang lompat pohon ke pohon sesukanya. Plus ada tokoh cewek yang jadi kekasihnya. Kesan kedua pas ngeliat video clip soundtrack-nya berjudul Decode yang dinyanyiin sama Paramore. Karena aga ngefans ma ni Band, meski aga aneh di awal pas denger. Diperhatiin liriknya, kok oke nih. Jadi deh mulai tertarik ma cerita filmnya. Dan belakangan dikasih tahu sama ‘temen’ kalo ni film di angkat dari novel. Baru deh mulai nyambung, bergoogle dan mulai dapat gambaran lebih baik mengenai gimana ni film. Keputusannya, tonton aja. Meski mungkin di samping kiri kanan, akan lebih banyak remaja ketimbang orang dewasa. Pertama karena novel ini aslinya memang novel klasifikasi remaja dan filmnya pun klasifikasi remaja. Soal bumbu film yang berbau sex vulgar, di film ini clean, can be considered no at all. 

Film ini, sebagaimana novelnya, berpusat pada dua tokoh sentral, Bella Swan yang diperankan oleh Kristen Stewart dan Edward Cullen yang diperankan oleh Robert Pattinson. Pembuat film ini sepertinya jeli dalam memilih pemain, terutama aktornya jadi puja-pujaannya cewek-cewek sedunia. Tokoh yang hampir sempurna, meski bersosok vampire, tapi sejatinya baik dan superhero. Orang juga mesti akan bilang kalo ni tokoh bukan vampire, tapi superhero. Sementara ceweknya jadi sosok yang begitu spesial dan terlindungi oleh si superhero tersebut. Awal perkenalan kedua tokoh itu boleh dibilang aneh dan sedikit berkonflik, meski sama-sama sadar kalo di masing-masing ada saling ketertarikan. Di tambah lagi dengan isu di lingkungan mereka yang cenderung negatif tentang si cowok. Akhirnya, si cewek pun tahu kalo ni cowok ternyata vampire. “What if I’m not a hero. What if I am a bad guy?” “I know who you are” “Are you Afraid?” “I’m not afraid. I’m just afraid of losing you” Pertentangan inilah yang bikin menarik. Si cowok mengakui kalo dia tu bisa jadi jahat ke ni cewek. Selama ini dia bisa nahan untuk ga minum darah manusia dengan nyalurin ke darah binatang. Tapi pas ketemu ni cewek rasa haus itu malah muncul. Tapi ni cewek percaya ma tu cowok, yah karena sosok superheronya yang lebih dominan. Ditambah lagi nuansa romantisme di antara keduanya. Selain itu a good hero can not possibly be a bad vampire. Cerita kemudian di bumbui konflik dengan genre vampire lain yang membuat masalah dengan mengambil korban manusia. Dan kemudian bertemulah dengan genre vampire baik-baik versi ni cowok, yang jadi melibatkan si cewek juga. Terjadilah pertarungan antara keduanya. Lumayan seru juga setting pertarungannya. Ending yang lumayan dinanti sih soal apakah ni cowok bakal ngegigit ni cewek, so akhirnya menjadi vampire juga. Akhirnya sih ngga sampe kejadian. Yah, mungkin ini bagian dari strategi pengarang cerita supaya sekuelnya tetap menarik.

Secara keseluruhan film ini bagus, entertaining. Cerita yang pasti menarik. Pemilihan pemeran yang pas. Pengambilan gambar yang lumayan artistik, bisa mengeksplorasi keindahan alam. Tata suara juga lumayan, cuma soundtracknya hampir ga kedengaran insert di film. Pengennya sih denger tu Decode-nya Paramore, but still no problem. Adegan ala superhero dan pertarungan juga lumayan apik. Dan terakhir gimana tu cewek terjebak pertarungan, ampe harus terluka dan lumayan injured, juga bikin surprise. Awal-awal pemutaran film aga belum tune, mungkin karena masih tahapan pengenalan tokoh. Tapi setelahnya cerita bisa mengalir dengan apik n hampir ga ngebosenin. Mo dirating berapa ya, 4 dari 5 boleh lah.

26
Dec

Love S’il Vous Plait!

S’il vous plait adalah ungkapan yang lazim di gunakan ketika meminta atau mempersilahkan dalam bahasa Perancis, atau dalam bahasa Inggris dapat dipadankan dengan please. Nyambung dengan kata love, sekedar ingin menggambarkan bahwa cinta itu something that is more to give than to ask, and ajaibnya we will have the same in return even without ask. To please, and be pleased. Ini sih kira-kira apa yang tergambar dari film cinta remaja Lost in Love (2008) yang digarap oleh Rachmania Arunita, sutradara sekaligus penulis cerita. Tokoh utamanya Tita dan Adit, masing-masing diperankan oleh Pevita E.P. dan Richard Kevin, mengingatkan kita pada nama tokoh yang sama pada film Eiffel I’m in Love (2003). Ngga heran, karena ceritanya sama-sama ditulis oleh Rachmania. Dan bukan suatu kebetulan pula, kalau cerita di Lost in Love ini merupakan sekuel dari Eiffel I’m in Love.

Ceritanya seputar konflik cinta antara Tita dan Adit, yang sebenarnya lebih karena perbedaan sikap dan cara pandang. Sesuatu yang sebenarnya tidak bermaksud negatif, namun menjadi salah karena missunderstanding. Karakter Tita dan Adit masih sama dengan film sebelumnya, Tita dengan sifat kekanak-kanakan dan romantisnya, dan Adit dengan sifat serius dan kekakuaannya. Meskipun ide cerita terkesan dangkal, yakni tentang pengembaraan hilangnya Tita di kota Paris, tapi penggarapan script dan variasi cerita yang apik membuat film ini menjadi menghibur. Terlebih lagi dengan akting Tita dengan ekspresinya yang lucu atau dialog beda bahasa yang ga nyambung. Feel tentang cinta remaja itu sendiri tergarap dengan baik, mungkin karena empunya cerita juga belum jauh dari masa remajanya. Bagaimana cinta itu pada dasarnya ingin menyatu, meski kadang terekspresikan dalam sikap yang bikin menjauh. Namun sekali pengertian itu bisa didapat, meski mungkin harus lewat perantara, akhirnya semua jadi bisa menyenangkan, s’il vous plait. Cerita yang ringan dan menghibur, plus emosi cerita yang bisa sampai ke penonton. Hampir tidak ada inkontinuitas di film ini, hanya kerasa agak kurang beritme di awal cerita.

Ini film tergolong bagus setidaknya dari penggarapan cerita dan pengambilan gambar. Ikon kota Paris yang identik dengan suasana romantis, meskipun subyektif, bisa memberikan nuansa Love. Eksplorasi eksotisme kota Paris kalau mau sebenarnya masih bisa dioptimalkan. Latar musik dengan soundtrack dari Tangga juga termasuk bagus, cuma kerasa kurang terpadu atau perlu diperkaya lagi sehingga bisa lebih tune in ke scene. O ya, di FFI 2008 film ini mendapat dua nominasi yaitu pemeran utama wanita terbaik dan sutradara terbaik. Boleh deh ni film di kasih rating 4 dari 5.




Mirror Blog

 

November 2009
M T W T F S S
« Aug    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  


My BlogCatalog BlogRank

eMShi Blog at Blogged

Site Meter

Add to Technorati Favorites

Delicious Bookmark this on Delicious

Bookmark, Share and Post to Profile
on your facebook, myspace, etc

AddThis Feed Button
on your RSS feed readers

http://emshi.blog.friendster.com