Archive for June 7th, 2009

07
Jun

cin(T)a di Manchester

Baru aja nobar alias nonton bareng film cin(T)a di Manchester Academy, Student Union, University of Manchester, Jumat 5 Juni. film ini merupakan film independen garapan Sembilan Matahari Film dan Moonbeam Creations. Sepintas dari trailer yang ditampilkan sepertinya film ini menyajikan tema yang sensitif, kalau tidak ingin dibilang kontroversial. Soal cinta dua anak manusia beda agama. Menampilkan Cina yang dibintangi Sunny Soon sebagai sosok anak kuliahan umur 18 tahun yang enerjik, dan Annisa yang dibintangi Saira Jihan sebagai sosok anak kuliahan yang tidak juga beranjak lulus umur 24 tahun berpenampilan kalem.

Meskipun film ini film independen, rencananya akan dicoba untuk masuk jaringan 21 di Indonesia. Roadshow yang dilakukan di 5 kota di UK ini semacam strategi bagi produser untuk melihat respon, khususnya terhadap isu yang diangkat. Cerita sepanjang film menampilkan dua sosok sentral Cina dan Annisa, dengan dialog-dialog yang kritis, dan beberapa berbumbu bahasa yang boleh dibilang puitis atau filosofis. Kalau dibilang film ringan, untuk adegan-adegan hubungan dua anak manusia boleh lah untuk dinikmati, dari gaya serius sampai aksi yang lucu. Namun film ini lebih pantas dibilang film berat atau semi berat, karena sebenarnya mengajak penonton untuk berfikir. Tidak sekedar soal hubungan dua anak manusia beda agama, tapi hubungan masyarakat yang lebih luas, agama dan negara, atau bahkan manusia dengan agama itu sendiri. Ini mungkin yang bisa dibilang sensitif. Meskipun sosok Cina dan Annisa ditampilkan sebagai sosok yang sangat taat dengan agamanya masing-masing, namun adegan ketika mempertanyakan Tuhan boleh dibilang agak berani untuk ditampilkan. Film ini boleh dibilang bermain aman, konklusi cerita yang tidak berakhir dengan pernikahan antar keduanya dan hanya sebatas sahabat seakan memberi kesan bahwa mereka tidak memposisikan film ini sebagai film yang mempromosikan pernikahan beda agama. Namun demikian ada hal yang menggelitik yaitu sisipan-sisipan adegan wawancara realiti terhadap pasangan beda agama yang telah ‘menikah’. Sesuatu yang meskipun dimaksudkan buat menampilkan kejadian nyata di masyarakat, namun menjadi sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu, karena film ini sudah cukup menggambarkan realiti yang coba diangkat meski konklusinya berbeda. Meskipun menurut produser film ini, sesuai pemaparan saat diskusi pasca pemutaran film, film ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan pernikahan beda agama. Namun adanya sisipan tersebut bisa mengundang tanda tanya.

Soal kualitas film, dari sisi pengambilan gambar dan tata suara. Untuk segmen awal agak sedikit terganggu sama tata suara yang tidak pas mengiringi adegan, membuat seakan film bertempo sangat lambat. Pengambilan close up juga kurang berasa pas; mungkin maksudnya coba berartistik. Tapi untuk segmen tengah hingga akhir bolehlah dibilang lumayan, setidaknya cerita terasa lebih mengalir. Meski sempet juga agak-agak inkontinuiti atau agak berat seperti saat tampilan berita televisi soal kejadian pemboman gereja atau adegan ketika Cina mempertanyakan Tuhan. Oh ya, kalau diperhatiin hampir seluruh adegan film boleh dibilang hanya berisi dialog antara Cina dan Annisa; sisipan pemain lain cenderung bersifat minor. Biar begitu, dan terlepas bahwa kedua pemeran film ini juga bukan aktor/aktris yang berpengalaman, pembawaan tokoh boleh dibilang sukses berat.

Balik ke isu utama film. Setuju-setuju aja sih kalo film ini dimaksudkan untuk membuka dialog dan membangun saling pengertian antar umat beragama. Sesuatu yang sebenarnya juga sudah berjalan di Indonesia dalam skalanya masing-masing. Kalau soal tensi yang timbul, itu tinggal bagaimana pemuka agama bisa meredam atau memberi pengertian kepada umatnya. Jadi bukan hal yang baru, kecuali formatnya yang dalam bentuk film. Tapi kalau liat forum diskusi yang muncul, tema yang lebih banyak dibahas justru soal nikah beda agama itu sendiri ketimbang isu yang lebih luas. Buat mereka yang punya masalah ini akan bilang kalau ini film tentang mereka. Kalau masing-masing orang konsisten dengan agamanya, mestinya bisa tau dan sadar apa posisi dan konsekuensi dari pilihan yang diambil, tanpa terjebak romantisme belaka. Dan itu lebih kembali kepada personal masing-masing, ketimbang menyalahkan agama sebagai penghalang. Sadar akan pilihan keyakinan, sesuatu yang sudah jelas garis dan aturannya; tidak bisa ditawar atau ditukar dengan apapun bahkan atas nama cinta itu sendiri.

Kontroversi? Lebih cocok kalau dibilang sensitif. Namanya sensitif tinggal gimana produser film mengomunikasikan maksud dan tujuan film, dan tidak terjebak kepada stigma sebagai film yang mempromosikan pernikahan beda agama. Kalau ingat kejadian film Ayat-ayat Cinta, yang dinilai sebagian orang sebagai film yang mempromosikan poligami; walau maksud sebenarnya lebih kepada cinta kepada Tuhan yang sesungguhnya. Oh ya yang mau tau lebih jauh soal film ini bisa mampir ke www.godisadirector.com. Secara umum boleh lah film independen yang sepertinya akan menjadi film komersial ini dirating 4 dari 5.




Mirror Blog

 

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  


My BlogCatalog BlogRank

eMShi Blog at Blogged

Site Meter

Add to Technorati Favorites

Delicious Bookmark this on Delicious

Bookmark, Share and Post to Profile
on your facebook, myspace, etc

AddThis Feed Button
on your RSS feed readers

http://emshi.blog.friendster.com