25
Jan
09

Aku Adalah Chairil Anwar

Siapa yang tidak kenal Chairil Anwar, minimal lewat puisi legendarisnya berjudul “Aku”, “Diponegoro”, atau “Krawang Bekasi”; yang disebut terakhir merupakan puisi saduran. Sejak di bangku SD pun kita sudah dikenalkan dengan sosok Chairil Anwar dengan karyanya itu. Sisi yang terlihat adalah sebuah karya yang menyuarakan perjuangan. Memang benar aura yang tampil dari puisi Chairil Anwar dari tiga karyanya yang populer itu memang bertema perjuangan. Namun kalau ditilik secara lengkap, puisi Chairil Anwar tidak sekedar bertema perjuangan, tapi juga bertema lain seperti Ke-Tuhan-an, kehidupan, dan cinta. Bahkan boleh dibilang, puisi Charil Anwar lebih banyak bicara tentang kehidupan dan cinta.

Buku yang memuat cukup lengkap semua puisi Chairil Anwar adalah “Aku Ini Binatang Jalang” yang diterbitkan oleh Gramedia (1986). Dikatakan lengkap, karena mengumpulkan seluruh karya Chairil Anwar yang tersebar pada beberapa buku atau majalah. Uniknya lagi di buku ini juga dimuat korespondensi Chairil Anwar ke H. B. Jassin.

O ya, saya jadi tertarik membeli buku ini, salah satunya karena film “Ada Apa Dengan Cinta” yang menampilkan Rangga yang menenteng buku berjudul “Aku”. Hingga tertarik untuk tahu lebih jauh mengenai karya-karya Chairil Anwar. Buku “Aku” ini berbeda dengan buku kumpulan puisi yang disebut sebelumnya. Yang disebut terakhir semacam biografi dari Chairil Anwar yang ditulis oleh Sjuman Jaya, terbitan Metafhor Publishing (2003). Termasuk menarik untuk dibaca, karena menceritakan perjalanan hidup dari sang pujangga legendaris ini. Tapi jangan harap untuk menemukan puisi-puisi lengkap Chairil Anwar. Untuk yang lengkap silahkan baca buku yang saya sebut pertama tadi.

Hal yang khas dari puisi-puisi Chairil Anwar adalah bahasanya yang lugas, bahkan dalam bahasa pengandaian atau metafor pun juga menggunakan pengandaian yang lugas. Hal ini membuat puisi Chairil Anwar secara umum lebih mengena dan mudah dipahami, tanpa harus membuat pembaca memutar otak untuk mencari arti dari sebuah rangkaian kata. Meskipun lugas, karya Chairil Anwar tidak kehilangan esensinya sebagai sebuah karya sastra, karena kita tetap dapat merasakan kuatnya diksi atau keindahan dari sebuah puisi. O ya, dibuku kumpulan puisi itu, kita akan menemukan satu puisi dengan beberapa versi. Hal ini tidak perlu dipertentangkan, karena sudah menjadi hal yang maklum, terutama bagi yang biasa menulis puisi. Penulisan merupakan sebuah proses yang kadangkala membuat sang penulis merubah kata-kata yang ada guna mencari diksi atau pilihan kata yang dirasa lebih tepat atau nyaman menggambarkan apa yang ingin diungkapkan. Kalau boleh dibilang, versi terakhir yang ditulislah yang menjadi versi final.

Sedikit mengutip karya Bung Chairil, “Kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau.”




0 Responses to “Aku Adalah Chairil Anwar”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.




Mirror Blog

 

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  


My BlogCatalog BlogRank

eMShi Blog at Blogged

Site Meter

Add to Technorati Favorites

Delicious Bookmark this on Delicious

Bookmark, Share and Post to Profile
on your facebook, myspace, etc

AddThis Feed Button
on your RSS feed readers

http://emshi.blog.friendster.com