Rekonstruksi Cinta, Sketsa Satu
The Insanity of A Girl: Becomes Enemy or Maintains Good Friendship
Prolog. Sebelum memulai, perlu dikasi prolog dulu kalo insanity tu bukan insane. Jadi tidak harus berkonotasi negatif, dan dalam kasus tertentu bisa berkonotasi positif, seperti the insanity in creativity, kalau ngga berpikir di luar kebiasaan, mungkin proses kreativitas dan hasil kreasi ga akan muncul. Ini cuma ketidakmengertian tentang sesuatu yang kita sendiri bingung maunya apa? Tulisan ini boleh dikategorikan fiksi adaptasi semi opini.
Sketsa satu titik satu. Perjalanan mengantarkan sampai di stasiun kota B*. Boleh dibilang nekat, mau ketemu seseorang, tapi tidak pernah lihat foto atau apapun yang bisa jadi pengenal. Kalau bukan karena referensi Saudara, ga mau deh gelap kayak gini. Yah, berbekal teknologi hape ga masalah, asal masih dapet sinyal. Celingak celinguk sok tahu menebak cari ngga bisa nemu. “Halo, kamu di sebelah mana ya?” “Di dalem stasiun” “Saya udah di luar nih” “Saya ni jalan keluar” Dua pasang mata pun akhirnya bisa saling menangkap. “Da lama nunggu?” “Oh ga baru kok”. Singkat cerita, berjalanlah keliling kota B* sambil bercerita-cerita, mampir ke kampusnya, rumah saudaranya, dan rumahnya. Cukup melelahkan, dan agak telat juga buat makan, sekitar sore sebelum ke rumahnya, padahal dari pagi-pagi berangkat ga sempet sarapan. Pas maen ke kampus sebenarnya sih da pas jamnya makan siang, dan coba nanya,”Gimana, mo makan di kampus pa di luar?” “Ntar aja deh” “Ya, OK, saya ikut yang punya B* (sambil menahan lapar). Selesai makan, sudah siap ngeluarin dompet, “Biar saya aja ya.” “Saya deh mas, kan tuan rumah.” “Waduh, jangan kamu kan belum kerja. Da saya dulu, kapan-kapan kalo mau gantian boleh deh, tapi tetep kalo dah gawe.” “Makasih mas.” Selepas dari rumahnya, sore pun kembali ke kota asal, kali ini tidak dengan kereta, tapi travel. Selama di B* meskipun tidak cukup punya kesan ‘rasa’, tetep ngedapetin kesan sebagai tamu yang diterima dengan baik, yah mulai dari dijemput, jalan keliling-keliling dan sampe di anter pulang ke terminal.
Sketsa satu titik dua. Sms ucapan terima kasih pun dikirim,”Makasih ya da ditemenin keliling-keliling” “O, sama-sama mas, makasih juga dah ke B*” Hari-hari berikut, sesekali coba berkirim sms, sekedar menjaga hubungan baik, sebagai teman. Beberapa lama setelahnya, kabar ngga enak muncul. Dapet informasi secara tidak langsung tentang beberapa hal pemutarbalikan fakta, antara lain soal tidak diajak makan dan siapa yang membayar makan, seperti mau mengesankan pelit. Tidak tahu kenapa bisa sampai seperti itu, seolah tidak ingin lanjut, tapi dengan cara yang salah. Usut punya usut ternyata memang sudah ada yang jadi pasangannya, cuma memang tidak diceritakan sebelumnya. Insanity number one, kenapa harus membuat cerita bohong yang menjelekkan orang lain bila maksudnya hanya sekedar tidak ingin melanjutkan hubungan? Perkenalan hanyalah hal biasa, yang tidak harus lanjut menjadi lebih serius, bisa cukup sekedar menjadi teman. Lagi pula tidak ada yang namanya cinta kilat, melainkan sekedar kesan ‘suka’ saat pertama melihat; dan bukan malah membuat permusuhan dengan tindakan bodoh yang tidak perlu. Ini juga ga ada kesan ‘rasa’, kenapa ge-er ya?
Sketsa satu titik tiga. Butuh waktu lama memang buat ngilangin rasa kesal atas sesuatu yang orang lain perlakukan tidak adil. Namun perjalanan waktu akhirnya bisa memaklumi. Setelah melewati bilangan tahun, meskipun tidak pernah menerima permintaan maaf, coba menyapanya kembali, itu juga karena tiba-tiba YM-nya online; hanya sebagai teman dan tidak bermaksud soal hubungan yang memang ga minat, sekedar menjaga silaturahmi. Yah, entah memang dasarnya atau merasa gimana, ga ada tu perilaku bagaimana menghargai orang lain. Contohnya, yah tanpa minta diucapin terima kasih, wajar donk ngasih respon kalau dikirimin email soal lowongan pekerjaan, itu kan juga atas permintaan. Bukannya diam serasa ga tahu. Ga ada yang berubah, niat baik buat coba ‘memaklumi’ dan tidak menutup silaturahmi masih dianggap hal lain? We just need to smile upon this, life is really colourful.
© mc / lancs, 08 nov 08 shortstoryseries
more on emshi.8m.com




0 Responses to “Rekonstruksi Cinta: Sketsa Satu”
Leave a Reply
You must login to post a comment.