“L’Amour Est La Réponse ”
Never mean to ignore
just too fragile to fall more
never object the word ‘no’ in love
just discourtesy that kills
It’s nobody’s fault
only time speaks
© mc / lancs, 24 nov 08
more on emshi.8m.com
“L’Amour Est La Réponse ”
Never mean to ignore
just too fragile to fall more
never object the word ‘no’ in love
just discourtesy that kills
It’s nobody’s fault
only time speaks
© mc / lancs, 24 nov 08
more on emshi.8m.com
“Aku Cinta”
Dalam lelap
saat (kemudian) terjaga
ku tersenyum
ada damai yang lingkupi hati
rasa cinta
lama tak ada, hadir kembali
Mencari,
bila saja kuingat
pada siapa?
Mimpi
© mc / lancs, 23 nov 08
more on emshi.8m.com
“Too good to be true because of bad is preferred? It might be scientifically proved.”
Diambil dari diskusi di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=985142. Postingan di kaskus ini bukan sumber ter-asli. Kalau di-googling ada versi English, yang juga bermacam-macam meski dengan isi yang agak berbeda, namun meng-quote hasil penelitian yang sama atau lebih lengkap. Asal muasal utamanya sepertinya dari artikel di majalah New Scientist edisi 2661 yang bisa Anda baca di http://www.newscientist.com/article/mg19826614.100-bad-guys-really-do-get-the-most-girls.html?feedId=online-news_rss091.
SETUJU atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Tak sedikit wanita yang justru tertarik menjalin cinta dan akhirnya jatuh ke pelukan cowok bandel yang juga sering disebut bad boy.
Seperti dilaporkan New Scientist, suatu penelitian membuktikan pria tipe bad boy banyak memakan ‘korban’ karena memiliki karakter dan kepribadian yang memikat para wanita. Menurut riset dengan cakupan luas tersebut, kaum Hawa terbukti sangat sulit untuk menolak perilaku kurang ajar para lelaki ini.
Rahasia yang membuat wanita terpikat wanita mungkin tergambar dalam tiga sifat buruk yang menjadi karakter seorang James Bond. Kepribadian ini menurut para ahli sering disebut dengan istilah Dark Triad yang merupakan kombinasi antara sifat impulsif, pencari tantangan, machiavelis (ekspolitatif), narsisistis (gila pujaan), dan tak berperasaan.
Menurut ilmuwan dari New Mexico State University di Amerika Serikat, dari sisi penampilan pria tipe bad boy ini mungkin tidak semuanya menarik. Namun begitu, para wanita kerap menyeimbangkannya dengan sisi maskulinitas serta kemampuan si pria untuk memberinya seorang anak.
Alhasil, para wanita yang tertantang mencoba affair akan tertarik dan menjalin cinta dengan pria tipe ini. Sementara bagi pria bad boy, hubungan ini akan menguntungkan karena memberi kesempatan bagi mereka untuk menurunkan sifat keturunan dan gen kepada generasi berikutnya.
Peter Jonason, ahli yang melaporkan penelitian ini, menyatakan bahwa James Bond adalah contoh sempurna seorang penakluk wanita dengan pesona dan ciri kepribadian misterius. “Dia jelas-jelas sangat tidak menyenangkan, sangat ekstrovert dan suka mencoba hal-hal baru seperti membunuh orang atau memikat wanita baru,” ungkapnya kepada New Scientist.
Dalam risetnya, Mr Jonason melibatkan 200 mahasiwa untuk mengikuti tes kepribadian yang didesain untuk mengurutkan masing-masing dari ciri kepribadian dark triad yang mereka miliki. Mahasiswa juga ditanya tentang perilaku dalam berhubungan seksual serta kehidupan seks mereka, termasuk berapa banyak perempuan yang pernah dikencani dan apakah mereka juga mencampakkannya. Hasilnya menunjukkan bahwa pria yang mencatat skor lebih tinggi pada sifat atau kepribadian dark triad cenderung memiliki banyak pasangan dan lebih tertarik untuk menjalin hubungan jangka pendek.
Penelitian lain di AS—melibatkan 35.000 partisipan di 57 negara— juga menemukan kaitan yang jelas antara kepribadian dark triad pada pria dan keberhasilan mereka menggaet wanita. Professor David Schmitt, peneliti dari Bradley University di Illinois, mengatakan bahwa fenomena ini bersifat universal melewati batas budaya. “Mereka yang mencatat skor tinggi pada sifat dark triad memang lebih aktif dalam menjalin hubungan singkat. Mereka cenderung mencoba dan menyabet pasangan orang lain untuk hubungan yang singkat,” ujarnya.
Peneliti juga mengatakan, pada titik yang ekstrem, kepribadian ini sungguh sangat tidak menyenangkan dan menyebabkan si pria dikucilkan dari masyarakat. Namun, strategi mereka kemungkinan akan sangat sukses bila ciri kepribadian dark triad ini jarang muncul.
Sementara itu, Dr Gayle Brewer, psikolog dari University of Central Lancashire, menyatakan, pria baik-baik tidak perlu putus asa. Meskipun wanita cenderung menyukai tipe bad boy dan sulit menolak perilaku kurang ajarnya, mereka bisa awet dan hidup langgeng dengan pria tipe penyayang.
Trend atau gaya masyarakat mendapatkan informasi mengalami perubahan yang lumayan berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi mass media. Media modern yang paling klasik adalah koran cetak atau variasi lainnya berupa majalah atau tabloid. Kemudian muncul radio, dengan berita radionya. Seiring munculnya televisi, atau untuk kasus Indonesia, dengan munculnya televisi swasta dengan redaksi pemberitaannya, berkembanglah jurnalisme televisi. Yang terakhir ini lumayan memberikan terobosan, karena berita lebih hidup dan lebih aktual; meski sayangnya tidak bisa diputar ulang selayaknya membaca koran. Terakhir dengan munculnya media internet, berkembanglah jurnalisme internet. Pelakunya tidak cuma mass media komersial tapi juga situs-situs independen atau blog personal. Nah yang ini lebih revolusioner lagi, karena tidak hanya bisa menampilkan berita teks, gambar, tapi juga video, yang bisa dilihat atau diputar ulang setiap saat.
Peralihan pemberitaan oleh pelaku industri koran cetak dengan memanfaatkan media internet juga berkembang secara bertahap. Mulai dari versi online dengan posting lebih lambat dari versi cetaknya, hingga akhirnya menampilkan versi internet sebagai divisi bisnis yang menampilkan berita aktual dan jadi lahan sumber keuntungan. Awal-awal memang ada kekhawatiran kalau masyarakat tidak lagi membeli koran cetak, karena bisa mendapatkan beritanya di internet. Tetapi hal ini akhirnya bergeser, karena media internet dipandang sebagai pelengkap, yang justru bisa menjadi sumber keuntungan. Tidak semua media cetak berhasil dalam menggarap pemberitaan versi internetnya. Hal ini selain faktor image, juga karena di internet sudah ada mass media yang sejatinya berbasis internet, seperti detik.com. Media cetak yang boleh dibilang sukses menarik jumlah pengunjung online dan meraup iklan adalah Kompas. Berbeda dengan tampilan versi cetak, gaya layout dan redaksi pemberitaan lebih nge-pop dan lebih bervariasi.
Meskipun telah berubah dan menjadi lebih aktual dan atraktif, tampilan berita online kadang masih dirasa kurang nyaman bagi sebagian orang. Juga masih ada semacam kerinduan untuk bisa membaca versi cetaknya. Selain berita terkadang kita juga ingin melihat iklan versi cetak, yang mungkin tidak kita temui di media versi online. Nah untuk yang terakhir ini, sekarang hampir semua media cetak menampilkan versi cetaknya di halaman online mereka. Jadi kita bisa membaca versi koran cetak dengan tampilan sama persis “tumplek blek” via internet, bahkan pada hari yang sama. Lagi-lagi yang paling nyaman dan atraktif adalah Kompas, karena tampilan menunya saat kita membuka berupa thumbnail seukuran layar yang berisi dua halaman, yang bila kita ingin membaca tinggal klik di area koran, maka tampilan akan membesar dan lumayan enak untuk dibaca. Untuk kembali ke thumbnail tinggal klik lagi di area koran. Untuk pindah halaman tinggal klik semacam tanda panah di kiri atau kanan koran, maka akan berpindah halaman. Alamatnya bisa diakses langsung di http://epaper.kompas.com, tanpa proses registrasi. Untuk Jawa Pos di http://versipdf.jawapos.co.id. Kalau alamat tersebut tidak bisa diakses, mungkin ada perubahan alamat, coba kunjungi alamat induknya untuk mengetahui perubahan dimaksud. Untuk media lain, alamatnya relatif kurang unik bila tidak dibilang ribet dan ada yang perlu proses registrasi, jadi silahkan kunjungi alamat induknya: Media Indonesia di htp://www.mediaindo.co.id (registrasi), Republika di http://www.republika.co.id (registrasi), dan Koran Tempo di http://www.korantempo.com (registrasi). Koran-koran yang disebut belakangan nampaknya perlu merubah metode akses, kalau mau meningkatkan jumlah pengunjung. Karena biasanya orang ga mau ribet sama proses registrasi dan semacamnya, bahkan bila gratis sekali pun. Koran lain silahkan cari di Google.
Selamat membaca koran pagi Anda, cukup di layar tanpa membeli koran.
Pernahkah Anda bingung saat ingin menemukan istilah Inggris tertentu saat akan menulis paper, tugas, blog, atau sekedar komentar dalam bahasa Inggris? Tentu merepotkan bila harus membuka buku kamus yang sedemikian tebal atau bahkan kamus ringan semacam Oxford Pocket Dictionary, terlebih bila kata yang hendak dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia to English translation lebih dari satu. Terkadang setelah lama mencari, kata yang ditemukan mungkin belum tentu cocok, terlebih bila hendak dicocokkan dengan konteks kalimat.
Solusi teknologi memang telah memberikan pilihan praktis seperti perangkat portabel kamus elektronik misalnya, yang mudah dan bisa dibawa kemana-mana. Tapi sekedar pendapat pribadi, penggunaan kamus elektronik portabel kurang mendidik, dalam arti bisa menimbulkan ketergantungan, yang tidak membuat penggunanya untuk terbiasa tidak lagi menggunakan kamus. Masih lebih baik, menggunakan kamus berbentuk buku, yang karena sedemikian tebalnya, akan memaksa seseorang untuk lebih bisa mengingat kosa kata ketimbang terpaksa membuka kamus atau membawa kamus kemana-mana. Pada tingkatan yang lebih mahir, kamus yang dibawa ada baiknya bukan lagi terjemahan English - Bahasa Indonesia vice versa, tetapi English - English dictionary. Ini bisa melatih pikiran untuk terbiasa terkonstruksi untuk membaca tulisan English tetap dalam English dan bisa memahami maknanya secara otomatis, tanpa berpikir apa artinya dalam bahasa Indonesia. Namanya bahasa, sehebat apapun kita, bahkan dalam berbahasa Indonesia pun, kita tetap memerlukan kamus untuk mencari arti atau mencari kata yang dapat memberikan diksi yang tepat. Dalam hal ini seperti halnya Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam konteks bahasa Inggris, gunakanlah English to English dictionary.
Kembali ke judul topik, untuk Anda yang sedang online di depan komputer atau menggunakan mobile internet, dapat memanfaatkan situs internet untuk mencari padanan kata yang tepat dalam pencarian bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Salah satu alamat yang biasa saya akses adalah www.sederet.com, kamus online ini lumayan handal dan mempunyai respon yang cepat. Hasil yang diberikan tidak sekedar satu arti atau satu kalimat, tetapi juga memberikan semacam daftar beberapa kombinasi frasa yang bisa lebih mengena dengan konteks kalimat yang kita perlukan.
Nah untuk kamus English to English, dapat mengakses www.askoxford.com, jangan lupa untuk memilih English Dictionary sebelum mengklik search. Sebagai empunya kamus, tentu hasil yang diberikan relatif handal. Dengan keluaran yang kurang lebih sama dengan yang Anda temukan pada versi bukunya.
Karena saya sedang mengambil kursus bahasa Perancis, dan memerlukan beberapa kosa kata untuk latihan. Saya menemukan situs www.wordreference.com. Situs ini memuat translasi beragam bahasa, multilanguage, yaitu Perancis, Sapnyol, Itali, Jerman, Rusia, Cina, Jepang, dan beberapa lainnya. Sebagai basis adalah Bahasa Inggris. Hasil yang ditampilkan lumayan memberikan alternatif, dengan menyajikan arti, daftar padanan, dan beberapa contoh penggunaan dalam konteks kalimat. Untuk mengambil kata yang dihasilkan, meskipun telah diberikan hasil dalam konteks kalimat tertentu, kita perlu memahami aturan penulisan kalimat dasar dari bahasa yang digunakan, sehingga tidak salah menempatkan atau mengambil kata yang tidak sesuai gender atau klasifikasi lainnya.
Selamat berkamus online, only if you need.
Rekonstruksi Cinta, Sketsa Satu
The Insanity of A Girl: Becomes Enemy or Maintains Good Friendship
Prolog. Sebelum memulai, perlu dikasi prolog dulu kalo insanity tu bukan insane. Jadi tidak harus berkonotasi negatif, dan dalam kasus tertentu bisa berkonotasi positif, seperti the insanity in creativity, kalau ngga berpikir di luar kebiasaan, mungkin proses kreativitas dan hasil kreasi ga akan muncul. Ini cuma ketidakmengertian tentang sesuatu yang kita sendiri bingung maunya apa? Tulisan ini boleh dikategorikan fiksi adaptasi semi opini.
Sketsa satu titik satu. Perjalanan mengantarkan sampai di stasiun kota B*. Boleh dibilang nekat, mau ketemu seseorang, tapi tidak pernah lihat foto atau apapun yang bisa jadi pengenal. Kalau bukan karena referensi Saudara, ga mau deh gelap kayak gini. Yah, berbekal teknologi hape ga masalah, asal masih dapet sinyal. Celingak celinguk sok tahu menebak cari ngga bisa nemu. “Halo, kamu di sebelah mana ya?” “Di dalem stasiun” “Saya udah di luar nih” “Saya ni jalan keluar” Dua pasang mata pun akhirnya bisa saling menangkap. “Da lama nunggu?” “Oh ga baru kok”. Singkat cerita, berjalanlah keliling kota B* sambil bercerita-cerita, mampir ke kampusnya, rumah saudaranya, dan rumahnya. Cukup melelahkan, dan agak telat juga buat makan, sekitar sore sebelum ke rumahnya, padahal dari pagi-pagi berangkat ga sempet sarapan. Pas maen ke kampus sebenarnya sih da pas jamnya makan siang, dan coba nanya,”Gimana, mo makan di kampus pa di luar?” “Ntar aja deh” “Ya, OK, saya ikut yang punya B* (sambil menahan lapar). Selesai makan, sudah siap ngeluarin dompet, “Biar saya aja ya.” “Saya deh mas, kan tuan rumah.” “Waduh, jangan kamu kan belum kerja. Da saya dulu, kapan-kapan kalo mau gantian boleh deh, tapi tetep kalo dah gawe.” “Makasih mas.” Selepas dari rumahnya, sore pun kembali ke kota asal, kali ini tidak dengan kereta, tapi travel. Selama di B* meskipun tidak cukup punya kesan ‘rasa’, tetep ngedapetin kesan sebagai tamu yang diterima dengan baik, yah mulai dari dijemput, jalan keliling-keliling dan sampe di anter pulang ke terminal.
Sketsa satu titik dua. Sms ucapan terima kasih pun dikirim,”Makasih ya da ditemenin keliling-keliling” “O, sama-sama mas, makasih juga dah ke B*” Hari-hari berikut, sesekali coba berkirim sms, sekedar menjaga hubungan baik, sebagai teman. Beberapa lama setelahnya, kabar ngga enak muncul. Dapet informasi secara tidak langsung tentang beberapa hal pemutarbalikan fakta, antara lain soal tidak diajak makan dan siapa yang membayar makan, seperti mau mengesankan pelit. Tidak tahu kenapa bisa sampai seperti itu, seolah tidak ingin lanjut, tapi dengan cara yang salah. Usut punya usut ternyata memang sudah ada yang jadi pasangannya, cuma memang tidak diceritakan sebelumnya. Insanity number one, kenapa harus membuat cerita bohong yang menjelekkan orang lain bila maksudnya hanya sekedar tidak ingin melanjutkan hubungan? Perkenalan hanyalah hal biasa, yang tidak harus lanjut menjadi lebih serius, bisa cukup sekedar menjadi teman. Lagi pula tidak ada yang namanya cinta kilat, melainkan sekedar kesan ‘suka’ saat pertama melihat; dan bukan malah membuat permusuhan dengan tindakan bodoh yang tidak perlu. Ini juga ga ada kesan ‘rasa’, kenapa ge-er ya?
Sketsa satu titik tiga. Butuh waktu lama memang buat ngilangin rasa kesal atas sesuatu yang orang lain perlakukan tidak adil. Namun perjalanan waktu akhirnya bisa memaklumi. Setelah melewati bilangan tahun, meskipun tidak pernah menerima permintaan maaf, coba menyapanya kembali, itu juga karena tiba-tiba YM-nya online; hanya sebagai teman dan tidak bermaksud soal hubungan yang memang ga minat, sekedar menjaga silaturahmi. Yah, entah memang dasarnya atau merasa gimana, ga ada tu perilaku bagaimana menghargai orang lain. Contohnya, yah tanpa minta diucapin terima kasih, wajar donk ngasih respon kalau dikirimin email soal lowongan pekerjaan, itu kan juga atas permintaan. Bukannya diam serasa ga tahu. Ga ada yang berubah, niat baik buat coba ‘memaklumi’ dan tidak menutup silaturahmi masih dianggap hal lain? We just need to smile upon this, life is really colourful.
© mc / lancs, 08 nov 08 shortstoryseries
more on emshi.8m.com
Siapa yang tidak kenal dengan nama Google, sang mesin pencari nomor wahid sejagat. Kalau sekitar sepuluh tahun lalu, Yahoo menjadi referensi pertama soal mesin pencari, sekarang orang akan langsung mengetik google di address bar untuk melakukan pencarian. Hingga muncul idiom baru di dunia internet, Googling. Atau dalam bahasa becandaan saya, ini tadi baru dapat info dari mas atau mba google, :-). Filosofi utama yang dipegang Google dan masih dipertahankan sampai dengan saat ini adalah kesederhanaan. Tengok saja tampilan mesin pencarinya, tidak menjadi berjubel dengan gambar atau pernak-pernik lain terkait iklan atau pengayaan konten. Memang ada tambahan fitur-fitur, tapi itu menjadi teks sebaris di bagian atas. It just simply a text around.
Google memang jadi menggurita, merambah ke beragam aplikasi web, yang sudah dikenal dan banyak dipakai diantaranya Google Map, Google Mail, dan Google Earth. Konsep yang ditawarkan punya nilai yang beda, sehingga punya posisi yang unik ditengah aplikasi web dari penyedia layanan lainnya. Terakhir, Google juga mulai merambah ke perangkat handphone. Namun tidak seperti Apple yang mengeluarkan gadget plus sistem operasi dengan Iphonenya, ia hanya mengeluarkan sistem operasi saja, dinamakan Android. Sepertinya Google ingin menancapkan sistem operasinya pada lebih banyak handphone sehingga tidak merasa perlu untuk membuat gadget sendiri.
Nah, balik ke judul di atas. Google saat ini juga mengeluarkan web browser, yang saat ini identik dengan Microsoft Internet Explorer, Mozilla Firefox, atau Apple Safari. Nama browser ala Google ini adalah Google Chrome. Konsep yang ditawarkan juga masih konsisten, kesederhanaan. Ini bisa terlihat dari tampilan yang boleh dibilang cukup minimalis sehingga memberikan ruang yang lebih luas untuk halaman web yang dibrowsing. Hal ini juga memberikan nuansa ringan saat memanggil aplikasi ataupun membuka halaman web, dibanding internet explorer yang biasa saya pakai, relatif lebih cepat. Mungkin karena internet explorer full loaded oleh plug in atau memang bawaannya. Teman lain pernah juga bercerita kalau Mozilla Firefox pun untuk versi terakhirnya agak terasa lebih lambat.
Tampilan Google Chrome saat pertama kali dibuka, akan menampilkan halaman home pilihan, sama seperti browser lainnya. Ruang berselancar lumayan luas, karena menu hanya mengambil dua baris saja di bagian atas, sementara di bagian bawah tidak ada status bar. Meskipun tidak ada status bar, informasi link alamat akan muncul di bagian kiri bawah saat kursor mouse kita menandai suatu link, dan status koneksi juga muncul setelah kita mengklik, selain animasi berputar di bagian tab atas. Dua baris menu yang disebutkan tadi tidak berisi menu sebagaimana layaknya suatu aplikasi. Baris pertama berisi tab-tab dari halaman yang kita buka, sedang baris kedua berisi kotak untuk mengetik alamat web yang akan kita selancar, plus icon back forward, refresh, favourite, dan setting. Yang unik saat kita membuka tab baru, akan muncul beberapa kotak yang berisi tampilan situs-situs yang paling sering kita kunjungi, lengkap dengan snapshot saat berkunjung terakhir. Selain itu juga ada menu pencarian, ini sepertinya jadi semacam trademark buat google. Menu pencarian ini khusus untuk search history halaman web yang pernah kita buka. O ya, yang lebih sip, kalau kita nulis alamat di bar, Google akan membantu dengan langsung menampilkan tebakan halaman web yang biasa kita akses dan bisa langsung enter kalau memang cocok. Beda sama Internet Explorer yang kudu gerakin kursor ke bawah buat milih dan belum mensortir sesuai tingkat akses sepertinya.
Mungkin bagi yang baru mencoba akan butuh waktu buat bisa adaptasi, setidaknya kalau terbiasa mencari menu-menu tertentu saat browsing. Tapi kalau untuk sekedar menulis alamat dan surfing biasa ga akan ngerasa beda, kecuali ama tampilan jendelanya saja. Ada si kelemahannya, maklum versi beta. Yang saya rasain, waktu bukan email Windows Live atau Outlook Web Access, sepertinya Chrome belum dikenal dan dianggap sebagai browser lawas jadi muncul peringatan atau ditampilin versi non advanced saat buka dua alamat tersebut. Hal lainnya, saat buka facebook, sebenarnya Chrome sangat-sangat asyik, karena lebih cepat, atau dua kali lebih cepat dari Internet Explorer. Cuma ada sedikit bug, ketika mo ngehapus suatu baris posting, ngga jalan. Selebihnya sih ok ok saja.
Simpulan akhir, sebagai browser baru yang berlabel versi beta, Google Chrome lumayan handal dan stabil, dan yang utama ringan plus cepat. Anda pasti akan terkesan sama kesederhanaannya, tapi kuat di isi. Jadi, mari ber-Google Chrome.
“Luka Bertanya”
Masih saja,
perih ini terasa,
luka yang tak mereda
Haruskah minta,
cabut duri yang terhujam,
hati yang tak atau coba tak peduli
Kau bisa pergi,
tanpa tinggalkan luka
Tapi mengapa?
© mc / lancs, 04 nov 08 iniapalagi-
more on emshi.8m.com
“Undefined”
Penat, pusing, tak bisa hentikan
seribu gejolak berputar di kepala
nyata dan angan beradu
pecah konsentrasi, pikiran pun hilang
tak tahu kemana
mau pun enggan tampak
tak bisa bergerak
berputar, kembali, atau maju?
Besar asa tuk melompat
bayang ketakutan mengalahkan
tak ingin terjatuh
tidak, tidak lagi
cukup sekali
Ah, satu saja
aku butuh cinta
sekarang!
© mc / lancs, 02 nov 08 ultimatelydraftcan’tthink
more on emshi.8m.com
Recent Comments