“Dan Kita Pun Tertawa Setelahnya”
Membaca perdebatan di milis malam ini
kening pun mengkerut
satu saja yang menyulut api
mengatakan ini begini itu begitu, tidak ini mestinya itu
sontak yang lain tersentak, setidaknya tergelitik
yang memulai tidak merasa membuat masalah
tapi yang membaca bisa merasa kalau ada yang coba menempelkan cap di sini
hingga perlu meluruskan, setidaknya memberi info tambahan, perspektif yang lebih luas
tidak ada yang salah dengan pendapat
boleh begini boleh begitu
tapi kalau sudah menyangkut nilai seseorang atau kelompok orang
hei, jangan main-main dengan cap, meski tidak merasa membuat cap alih-alih pendapat
boleh saja bicara, tapi coba kedepankan empati
coba tahukan apa yang ada di orang lain, sebenarnya (dan cara pandangnya)
kebenaran pribadi boleh dipegang, tapi jangan merasa benar atas orang lain
dan bila emosi masih dibawa, lupakan perdebatan bila tidak siap untuk berbeda
Dan hati pun terhenyak
peristiwa beberapa hari lalu
dia yang lemparkan kata-kata
tidak merasa memberi cap, kata orang katanya, dan kata orang pasti benar
memang ada yang benar, tapi tidak sepenuhnya benar
dan tentu saja ada yang tidak benar sama sekali
sesuatu yang kita lihat belum tentu seperti apa yang terlihat,
apalagi bila melihat dengan kacamata orang lain
kita seharusnya bisa bedakan pendapat dengan menilai pribadi orang
soal pendapat boleh saja kita coba lihat dari cara pandang lawan
tapi menilai pribadi seseorang, sudah semestinya bisa melihat dari cara pandang yang dinilai
itu baru empati, bukan emosi tanpa batas (bila memang bermaksud mencari penjelasan)
Ah, akhirnya kita pun tertawa setelahnya
emosi, satu hal yang mestinya tidak keluar
satu hal yang mestinya aku tak terbawa
mungkin dia kehilangan satu perhatian, sesuatu yang mestinya aku sadari
sama sekali tiada bermaksud, meski dengan alasan dia yang memulai
kenapa juga harus serius, perjalanan waktu selalu mengajarkan
bila hidup bisa dibuat indah dengan canda dan tawa
memaafkan, kata yang tak perlu terucap
karena hati selalu bisa memaklumi
meski butuh waktu, pengendapan dan bercermin
segala sesuatu pasti ada alasannya, meski kita tidak selalu bisa tahu
tiada yang lebih penting dari arti kehadiran
aku, dia, dan dunia
© mc / lancs, 16 okt 08 jelangtengahmalam bukanpuisi
more on emshi.8m.com




0 Responses to “Dan Kita Pun Tertawa Setelahnya”
Leave a Reply
You must login to post a comment.