M E R D E K A . . Hari ini memang spesial, hari di mana negeri ini mendeklarasikan kemerdekaannya. 63 tahun, bukan waktu yang sebentar bagi perjalanan sebuah bangsa. Banyak kemajuan yang diraih, namun sejauh mana cita-cita bangsa ini sebagimana termaktub dalam Mukaddimah UU 45, yang setiap upacara dibacakan kembali seperti pada pagi ini, sudah tercapai; terutama tentang kemakmuran dan keadilan.
Kalau hari biasanya, naik bus dari terminal buat ke kantor. Khusus pagi ini coba naik kereta. Bukan apa-apa karena hari ini hari minggu, yang jelas hari libur. Khawatir aja kalau tu bus, lama berangkatnya karena nunggu penuh, dan dijalan berpelan-pelan ria karena cari penumpang. Alasan lainnya, pengen coba naik kereta lagi, kelas ekonomi pastinya. Yah kalo hari-hari biasa udah gak mungkin buat naik, kecuali rela berdesak-desakkan, atau tepatnya terjepit terhimpit. Yang jelas sih, kalau masih bisa berdiri di kereta dah untung, tapi hari biasa kejadiannya tuh kaki di mana, tangan di mana, cocok buat akrobatik. Tapi ajaibnya yang ada dipintu bisa tahan, ga ampe terdorong jatuh, kan bahaya tuh, semacam ada malaikat penjaganya sepertinya. Gimana ga penuh bejubel, dengan tarif cuma Rp 1500, da bisa pergi dari depok ampe kota, cepat sampe dan terjadwal. Bandingin sama ongkos metromini/kopaja yang minimal Rp 2500. Btw, miniarta, semacam metromininya depok - pasar minggu punya tarif bersahabat, cuma Rp 2000, baik ya. Bisa sih kalo ga mau desak-desakkan, tinggal naik kereta ekspress AC, tapi siap-siap deh rogoh kocek lebih dalam, antara Rp 9000 s.d. 11000. Yah, buat kalangan bawah dah bisa buat naek kereta ekonomi berapa kali tu. Saya pribadi sih, kalau pulang kadang suka juga naik ni kereta ekspress, lebih cepat setengah sampai satu jam buat sampai ke rumah. Cuma ditambah ongkos kopaja buat ke stasiun dan angkot buat lanjut ke rumah, ongkosnya jadi Rp 16000. Di banding kalau naik bus AC yang Rp 6000 jauh banget. Itu harga kenyamanan kali ya, ha.
Ngomong-ngomong soal penumpang kereta atau tepatnya KRL jabodetabek punya komunitas yang kompak, yang lumayan buat nyampaian aspirasi ke PT KAI, kalo ga salah setahun sekali atau mungkin lebih punya acara ketemu sama PT KAI buat dialog. Ada websitenya lho, buka aja di www.krlmania.com. Dari forum ini, lumayan lah perbaikan dari PT KAI, walau mungkin masih ada aja kekurangannya. Ga kalah dengan penumpangnya, PT KAI punya website juga, yah tentang macem-macem kereta ma jadwal terutama, di www.krljabotabek.com.
Balik ke kenapa naik kereta ekonomi. Karena mikir ini hari libur, kiraian tu kereta bakal agak kosongan. Naiknya juga yang berangkat pk 05.30 dari stasiun pondok cina atau pocin. Ternyata, penuh. Sempet jadi khawatir, naik rapih wangi, turun kusut bau nih, ha. Yah, untungnya langsung lari geser naik ke gerbong tengah, agak longgaran. Kalau inget bahasan di atas, syukur masih bisa berdiri. Wow, yang naik selain para pedagang - dari bogor kayaknya, juga orang-orang yang pada mau upacara, keliatan dari seragam KORPRI-nya, yah banyak teman yang mau upacara juga rupanya. Nah tuh, soal pedagang, bawaannya ga kira-kira. Kalau cuma dua bakul keranjang si masih OK, itu juga da ada penumpang yang merengut-rengut karena bikin sempit. Yah, tapi kita harus maklum. Untung dagangan yang gak seberapa, kalau gak naik kereta, di mana untungnya. Belum lagi soal waktu perjalanan. Nah tu tadi, ada yang bawa dagangan kursi bambu panjang yang buat tidur-tiduran. Ngehnya si pas waktu si abang itu turun, alamak berapa ruang yang jadi keambil ma tu kursi. Untung aja da agak sepian jadi gampangan tu abang turun, kalo kagak wah deh.
Soal moda transportasi massal, kereta tetap nomor 1, yah bebas hambatan, muat super banyak. Kalau bisa jalur rel layang yang cuma kota sampe cikini diterusin sampai bogor dan tujuan-tujuan komuter lainnya. Kalau dah gini kan frekuensi kereta bisa ditambah lebih sering dan bakal lebih ngurangin beban muat penumpang. Tapi kalau kayak sekarang, frekuensi di tambah malah bakal ngebebanin jalan umum yang jadi perlintasan, dikit-dikit teng tong teng tong. Da gitu risiko kecelakaan perlintasan bisa makin tinggi. Busway terobosan yang bagus dan lebih ekonomis memang, tapi kalau di lajur yang terbatas dan banyak persimpangan atau puteran jadi keganggu efektivitas waktu perjalanan dan mengurangi lajur jalanan umum. Seorang teman bilang, kalau mau busway efektif, jalurnya mesti sampe kota satelit di sekitarnya. Karena justru yang kerja itu kan tinggalnya di satelit-satelit itu. Bukan bus feeder lho ya, tapi lajur buswaynya. Makanya tu busway mesti sampe depok, bekasi, tangerang, dan bogor. Cuma mesti koordinasi antar pemerintah daerah tuh. Kendala utama yang jelas sih jumlah lajur jalan yang sempit. Dilebarin donk, ha. Kalo monorail sebenarnya bagus, karena ngambil ruang sedikit di pembatas jalan, jadi ngga ganggu jumlah lajur jalan. Nah tu kenapa jalur monorail di kuningan yang dah berpancang-pancang mandeg. Itung-itungan return on investment kayaknya, yang bikin investor mundur. Terapin tarif mahal ntar ga laku, minta subsidi ke pemerintah, pemerintah juga ngga mau. Pa lagi sekarang da ada busway, saingan terdekat, kalo ga ok tarifnya, tambah ga laku. Kelemahan lain, tu monorail kayaknya satu arah muternya, secara cuma satu lajur. Kalo dua lajur kan bisa dua arah bolak balik. Masa penumpang mesti muter dulu buat nyampe, padahal kalo ada arah sebaliknya lebih dekat. Terakhir, viva KRL deh, PT KAI doing better, but still as moda ekonomi rakyat, perlu dukungan dari pemerintah, terutama soal infrastruktur. M E R D E K A !




Recent Comments