‘Musim hujan telah tiba, bapak-bapak, ibu-ibu siap-siap, 10, 9, 8, …’ itulah kira-kira cuplikan iklan salah satu produk rokok dua tiga tahun lalu, lumayan segar menyitir kondisi banjir yang kerap datang di musim hujan, tapi tidak ada upaya sistematis untuk menanggulanginya, selain meminta masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi banjir.
Jangan melulu salahkan alam, ketika hujan tiba, bila tidak ada perubahan perilaku gemar membuang sampah di sungai, atau kemauan menata ruang dengan tidak mengorbankan ruang serapan air untuk julangan bangunan komersial, atau kesungguhan pembangunan infrastruktur penampung pengendali atau kanal pengalir banjir.
Itu semua sudah cukup kita ketahui, cukup besar untuk jadi bagian solusi banjir, disamping sebab dan solusi lain yang bisa diajukan. Tapi tidak akan pernah cukup bila hanya menjadi wacana berulang — seperti sitiran iklan di atas — yang tak kunjung terealisasi.
Soal kesadaran masyarakat, ramaikanlah public campaign ‘anti buang sampah ke sungai’, tapi jangan lupa sediakan tempat pembuangannya. Tentang tata ruang, potret dan atur ulang, plus konsisten sebagai kata kunci. Terakhir, soal infrastruktur, butuh dana besar memang, tapi layak jadi prioritas. Kerugian mandeknya ekonomi atau lumpuhnya akses bandara plus bandaranya, sudah termasuk strategis untuk tidak dibiarkan.
Jakarta underwater should not be acted as Jakarta undercover, it’s so real that everyone sees.




Recent Comments