Ini novel kedua karya Putu Wijaya yang saya baca, sebelumnya yaitu ‘Puteri’ jilid 1, tidak selesai karena belum baca lanjutannya di jilid 2. ‘Nora’ jilid 1, lagi-lagi novel terbaru karya PW yang terbit November 2007 ini, hadir lebih dari satu jilid, mungkin empat jilid kalo dilihat dari sub judul Tetralogi Dangdut. Tertarik untuk membeli setelah membaca ulasannya di Kompas, sub judul yang provokatif, dan keingintahuan akan karya lain PW.
Sesuai karakteristik karya PW seperti yang terlihat pada ‘Puteri’ menampilkan konflik-konflik manusia dengan bumbu latar sosial politik. Bila dalam novel ‘Puteri’ penyajian cerita meskipun sedikit njelimet namun masih terasa realis. Maka dalam novel ‘Nora’ terbitan Kompas, yang diberi label Bacaan Khusus Dewasa, penyajian cerita sangat abstrak, sehingga membuat novel ini sangat berat. Sulit untuk memahami latar cerita yang tidak sesuai kelaziman umum, seperti gambaran cerita di awal soal perkawinan tak terduga, tidak jelas motif keluarga si gadis, atau motif si pria yang sebenarnya, yang malahan dipersepsikan sebagai kegilaan eksperimental dari masing-masing pihak. Sebagian besar isi cerita berupa pertarungan pikiran baik dalam diri sendiri sang tokoh atau pun perang dengan pikiran tokoh lain. Terkait dengan label Bacaan Khusus Dewasa, boleh dibilang novel ini sebagai abstraksisme seks. Tidak terlalu mengganggu atau bervulgar ria bahasa yang digunakan, sehingga sebenarnya tidak perlu diberi label sedemikian itu.
Bumbu latar sosial politik juga hadir dalam novel ini, dengan munculnya tokoh yang terkait isu politik tertentu, atau pun sindiran-sindiran tertentu.
Ada sedikit kelemahan mendasar yang agak mengganggu, entah kesengajaan PW atau proses edit yang tidak sempurna. Setidaknya ada dua bagian dimana script cerita berulang kembali, dan itu bukan flahback.
Meskipun judul Novel ini ‘Nora’, tokoh utama yang sebenarnya bernama Mala, seorang pria yang menempati posisi yang terbilang sukses di suatu media massa. Nora, juga tokoh utama, tapi lebih layak disebut sebagai tokoh utama pendamping, digambarkan sebagai gadis yang sangat terbelakang, atau tepatnya tertekan di keluarganya, terlihat agak bodoh, tidak paham hukum perkawinan, dan terlalu menurut pada keluarganya. Inti cerita diawali kejadian yang tabu saat Nora melihat sesuatu yang tidak seharusnya saat Mala buang air kecil di rerimbunan pohon belakang rumah. Berlanjut dengan perkawinan dadakan karena tuntutan orang tua Nora yang menyebut Nora hamil. Meskipun tidak pernah melakukan hal apa pun pada Nora, Mala menerima permintaan itu. Cerita berlanjut dengan tingkah laku keluarga Nora yang seakan tidak menganggap keberadaan Mala, kecuali gajinya saja. Tambah aneh saat si keluarga itu minta persetujuan Mala untuk mengizinkan Nora menikah lagi. Hal ini membuat Mala menjadi berang bukan kepalang, dan memutuskan untuk tidak peduli lagi pada si keluarga. Tapi pada Norma, Mala tidak bisa melepaskan perhatiannya, meski pada awalnya ia merasa bahwa penerimaannya untuk perkawinan dulu karena bereksperimen, namun akhirnya ia sadari semua itu ia lakukan karena sebenarnya ada rasa sayang pada Nora. Konflik berlanjut dengan drama politik, saat Mala terjebak dalam skenario politik yang menyudutkan dirinya dalam ancaman jeruji dan perubahan sikap sahabat yang tiba-tiba menjadi lawan. Ia sendiri tidak tahu dengan pasti siapa dalang di balik semuanya. Cerita berikutnya berlanjut di jilid dua..




SEMOGA AKAN KUTEMUKAN CINTA MELEBIHI DIA……