“Kau (Mungkin Yang Ter-) Indah, Tapi Bukan Yang Terkenang“
Saat pertama pandang bertemu
indah, itulah pesona dirimu
tertarik hati coba raba rasamu
nyata dirimu (ada) tertambat pada yang lain (di sana)
entah apa (buat) kau sambut nadaku
bintang padaku
atau sandaran bagimu di tempat ini
tak layak hati bermain (hanya) karena kilaunya bintang
mana yang lebih berharga, di sini atau di sana
waktu berjalan,
bicaramu hanya dirimu yang kau dengar
tak mengapa biar waktu (nanti) dengarkan
halus inginmu bertolak dengan kasar tuturmu
tak mengapa biar waktu (nanti) padankan bahasa
tak ada musik indah dalam sapamu
tak mengapa biar waktu (nanti) lantunkan
detik waktu hentikan cerita
jauh canda (tak kau punya)
serasa dirimu terlantahkan
tak ingin kau kenal (lagi) diri di sini
siapa dirimu bicara seolah aku apamu
atau dirimu ingin bilang aku apamu
tak mengapa (karena) itu maumu (bukanku)
maaf kau bilang (entah apa maksudmu), hati berbolak-balik
tak mengapa maaf itu (masih) ada
waktu berjalan beriring hampa
tanda kabar selakan salam
satu balas sapa datar, lainnya (tetap) musik yang tak indah (terdengar)
ku pikir latar bedakan bahasa
tapi semua bilang itu (memang) sifatmu
tiada yang berubah darimu
tak ingin (waktu) kini harapkan, cukuplah sudah (biar ku menjauh)
biarlah perubahan itu ada (kalau pun ada) tanpa di sini
(toh) manusia bisa berubah (dan belajar menghargai)
dirimu indah, tapi tidaklah tersimpan dalam indah (-nya) kenangan
© mc / kdr, 26 jan 08 supposedtobewrittenasshortstory
more on emshi.8m.com




gud