16
Nov
07

Uni Eropa: Menuju Sebuah ”Negara” Atau Sekedar Integrasi Ekonomi?

Europeanintegrationbook Uni Eropa, sebuah topik yang menarik bagi negara-negara di kawasan mana pun untuk menjadi contoh atau rujukan bagaimana integrasi ekonomi negara-negara dalam satu kawasan bisa berlangsung dengan baik. Namun apakah integrasi tersebut memang berjalan dengan baik? Dan apakah integrasi tersebut tidak menuju ke pembentukan sebuah ”negara”, terlebih dengan munculnya Parlemen Uni Eropa dan Kementrian Uni Eropa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab bila kita mengikuti perkembangan Uni Eropa sejak pasca perang dunia kedua hingga saat ini. Namun bagi kita yang tidak dapat mengikuti perkembangan tersebut, tidak berarti kita tidak bisa mendapatkan cerita mengenai sejarah dan perkembangan Uni Eropa. Buku “The Economics of European Integration: 2nd Edition” karangan Richard Baldwin dan Charles Wyplosz yang diterbitkan oleh McGraw Hill bisa menjadi salah satu rujukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang hal tersebut.

Buku setebal lebih dari 455 halaman ini bukanlah buku populer yang menjadi bacaan ringan, namun merupakan sebuah buku teks perkuliahan dengan penekanan pada ilmu ekonomi tepatnya kajian ilmu ekonomi integrasi Uni Eropa. Sebagai konsekuensinya, menjadi relatif berat untuk dibaca oleh orang awam. Namun demikian, orang awam tetap dapat membaca buku ini dan mendapatkan gambaran mengenai Uni Eropa, terutama dengan membaca kotak artikel, namun terpaksa harus melewatkan kajian dari sisi ilmu ekonominya dan kehilangan gambaran utuh. Sedangkan bagi mahasiswa atau pembaca yang mempunyai latar belakang ekonomi, buku ini menjadi sangat menarik karena perkembangan Uni Eropa yang dibahas disandingkan dengan penjelasan dari sisi kajian ilmu ekonomi. Hanya saja kajian ilmu ekonomi yang dipaparkan masih bersifat dasar dan berdasarkan pada asumsi penyederhanaan tertentu. Sehingga untuk mendapatkan kajian yang lebih mendalam perlu membaca buku yang lebih mahir, atau melakukan riset sendiri.

Pengorganisasian buku ini terdiri dari 5 (lima) bagian dan total 19 bab, yaitu: Sejarah, Fakta, dan Kelembagaan (3 bab), Kajian Ilmu Ekonomi Integrasi Ekonomi (5 bab), Kebijakan Uni Eropa (4 bab), Integrasi Moneter: Sejarah dan Prinsip-prinsip (3 bab), dan Kebijakan Moneter dan Fiskal Uni Eropa (4 bab). Secara keseluruhan pengorganisasian buku ini baik dan dapat memberikan alur pengetahuan yang sistematis, dimulai dari sejarah, kemudian kajian ilmu ekonomi, dan perkembangan ekonomi Uni Eropa.

Berdasarkan sejarah yang dipaparkan, meskipun Uni Eropa lebih dititikberatkan pada kerja sama ekonomi, namun integrasi yang terjadi selalu dilatarbelakangi oleh faktor politik, dari keinginan untuk menghindari terjadinya kembali perang Eropa, hingga keinginan untuk memperluas integrasi ke negara demokrasi baru di Eropa Tengah dan Timur. Meskipun tujuannya bersifat politis, namun alat yang digunakan selalu ekonomi. Yang menarik adalah bahwa Uni Eropa pada awalnya bukan merupakan satu blok ekonomi, namun berasal dari dua blok ekonomi yaitu European Economic Community (EEC) dan European Free Trade Association (EFTA), namun dengan berjalannya waktu secara alami melebur menjadi satu blok ekonomi. Terdapat tiga hal penting yang terjadi dalam perkembangan integrasi ekonomi:
(1) Pembentukan Customs Union / Blok Ekonomi dari tahun 1958 s.d. 1968 yang menghilangkan tarif dan kuota dalam perdagangan intra Uni Eropa.
(2) Program satu pasar antara tahun 1986 s.d. 1992 menghilangkan hambatan non-tarif dan meliberalisasikan aliran modal dalam Uni Eropa.
(3) Penyatuan ekonomi dan moneter dengan meleburkan hampir seluruh mata uang anggota Uni Eropa.
Sejarah yang dipaparkan meskipun tidak dapat mencakup seluruh kejadian yang memang sangat panjang dalam rentang waktu 50 tahun, namun dapat memberikan gambaran yang menarik atas pasang surutnya integrasi Uni Eropa, termasuk tarik menarik kepentingan atau ego politik dalam negeri beberapa negara anggota, dengan tambahan ilustrasi pada kotak artikel.

Bagian selanjutnya memaparkan teori-teori ekonomi mikro terkait integrasi ekonomi. Beberapa di antaranya yaitu mulai dari diagram sederhana penawaran permintaan, analisa penawaran permintaan ekonomi terbuka, analisa proteksi ekonomi, analisa blok ekonomi, efek besaran dan skala pasar, efek pertumbuhan dan integrasi pasar faktor produksi, hingga analisa integrasi pasar tenaga kerja dan migrasi. Seperti diungkapkan di awal, teori ekonomi yang dipaparkan menggunakan asumsi penyederhaan tertentu. Seperti pada saat menerangkan alat analisa kebijakan perdagangan, yang mengasumsikan tidak adanya persaingan tak sempurna dan tidak adanya skala ekonomi. Dua diagram terpenting terkait hal ini yaitu diagram penawaran permintaan ekonomi terbuka dan diagram MD-MS, yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan pengaruh proteksi impor pada konsumen domestik, produsen domestik, dan penghasilan domestik, termasuk pula harga, kuantitas, dan kesejahteraan domestik dan negara luar. Hal yang menarik dari analisa blok ekonomi adalah adanya kecendrungan lebih rendahnya harga domestik dan meningkatnya impor keseluruhan, namun juga menimbukan adanya pergeseran penawaran, yaitu dari pemasok non anggota blok ekonomi ke pemasok anggota blok ekonomi. Hal ini memberikan pula pasar yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan anggota blok ekonomi, dengan semakin besarnya pasar ”domestik”, yang sekaligus menimbulkan persaingan antar perusahaan anggota blok ekonomi dengan tereliminasinya perusahaan-perusahaan yang kurang efisien sebagai bagian restrukturisasi industri di blok ekonomi. Dari faktor produksi yang ada, nampaknya pasar tenaga kerja merupakan pasar yang tidak mudah untuk diintegrasikan atau cenderung tidak fleksibel. Hal ini terkait kekuatan serikat buruh dan informasi asimetris dalam penentuan upah. Masalah migrasi pun juga cukup kontroversial, meskipun dapat mengefisiensikan ekonomi dan memeratakan kesejahteraan, namun terkendala tekanan dalam hal tenaga kerja tidak terlatih dan rigiditas pasar tenaga kerja itu sendiri.

Uni Eropa mempunyai kebijakan yang ketat dalam proteksi sektor pertanian, dengan menetapkan batasan (CAP) yang membuat hasil pertanian yang akan masuk ke negara anggota menjadi lebih mahal dari harga domestik. Yang menarik adalah dengan berkembangnya teknologi pertanian, Uni Eropa bergeser dari importer menjadi eksporter hasil pertanian. Dalam kondisi ini pun Uni Eropa tetap mempertahankan kebijakan CAP-nya, bahkan menjadi dilema saat harus menyerap kelebihan produksi domestik dalam rangka mempertahankan standard harga. Kebijakan pertanian merupakan kebijakan yang paling banyak menghabiskan anggaran Uni Eropa dan menjadi isu yang penting terkait distribusi yang adil. Kebijakan blok ekonomi membuat pasar ”domestik” menjadi lebih besar dan sekaligus menimbulkan persaingan yang mengeliminasi perusahaan yang tidak efisien. Terkait eliminasi perusahaan yang tidak efisien, memunculkan ego nasional anggota blok ekonomi untuk mempertahankan perusahaan nasional dengan memberikan bantuan yang menimbulkan bias terhadap kebijakan blok ekonomi itu sendiri. Untuk menghindarkan bias ini, Uni Eropa menerapkan batasan-batasan sejauh mana bantuan tersebut diperbolehkan. Dalam perdagangan luar negeri, Komisi Eropa merupakan badan yang berhak untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan negara-negara di luar Uni Eropa sesuai mandat dari Kementrian Uni Eropa. Tarif eksternal (CET) yang ditetapkan Uni Eropa pada umumnya rendah, namun perhitungan pada sektor pertanian empat kali lebih besar dari sektor industri.

Buku ini mengemukakan pula sejarah berkembangnya uang dari uang logam hingga uang kertas. Standard emas yang pernah berlaku di banyak negara ternyata merupakan model yang mendekati sistem kesatuan moneter (Euro). Menyimak pelajaran dari kekisruhan standard emas dan uang kertas, penerapan sistem Bretton Woods memunculkan USD sebagai standard baru moneter dunia. Teori mengenai pilihan rezim nilai tukar juga menjadi bahasan, dengan berbagai variasi penerapan pada banyak negara. Pada kubu ekstrem, bila suatu negara memilih rezim nilai tukar tetap maka kebijakan moneter tidak dapat berlaku, sedangkan bila memilih rezim nilai tukar bebas maka kebijakan moneter menjadi efektif. Tidak ada kebijakan yang paling baik, pemilihan rezim nilai tukar tergantung kondisi dan pilihan yang diambil masing-masing negara. Dalam jangka pendek, uang tidak bersifat netral dan mempengaruhi ekonomi riil, namun dalam jangka panjang uang bersifat netral dan tidak mempengaruhi ekonomi riil; efeknya hanya menentukan laju inflasi. Sebagai reaksi atas dominasi USD dan pengaruhnya terhadap kestabilan nilai mata uang, negara-negara Uni Eropa berusaha menciptakan suatu sistem yang dapat menjamin kestabilan mata uang mereka. Diawali dengan kegagalan penerapan sistem awal, secara bertahap negara-negara anggota menyandarkan mata uangnya ke Deutschmark – sebagai mata uang paling stabil di Eropa, merupakan sebuah langkah menuju kesatuan moneter Eropa.

Bagian akhir buku ini mengungkapkan mengenai integrasi moneter dan kebijakan fiskal. Karena alasan tertentu, tidak semua negara anggota mengganti mata uang negaranya dengan Euro, beberapa karena pilihannya sendiri, sedang yang lain karena belum memenuhi persyaratan. Untuk mengadopsi mata uang tunggal diperlukan prasyarat yang secara teori disebut sebagai Teori Area Optimum Mata Uang (OCA Theory). Penerapan mata uang tunggal bukanlah merupakan awal, tetapi sebuah akhir dari proses konvergensi, yakni kemampuan negara-negara anggota untuk mencapai kestabilan harga dan kedisiplinan untuk menjaganya. Selain inflasi yang rendah, juga diperlukan prasyarat suku bunga jangka panjang yang rendah, keanggotaan dalam Mekanisme Nilai Tukar (ERM), defisit anggaran yang rendah, dan hutang yang menurun. Meskipun semua negara mengarah untuk menyatu dalam mata uang Euro, Denmark dan Inggris memilih untuk mempertahankan mata uang negara mereka. Penyatuan moneter memberikan pendelegasian kebijakan moneter dalam satu otoritas Bank Sentral Eropa (ECB). Meskipun demikian, keberadaan bank sentral di masing-masing negara tetap dipertahankan. Sistem Euro secara konstitusi memperoleh independensi yang tinggi baik dalam menentukan target dan kebijakan moneter yang diambil, yang mengarah pada satu tujuan kestabilan harga. Meskipun mendapat beberapa goncangan pada tahun pertama penerapannya, ECB berhasil menjaga laju inflasi mendekati 2%. Hilangnya kebijakan moneter nasional, menyisakan kebijakan fiskal sebagai satu-satunya instrumen makro ekonomi yang dapat digunakan masing-masing negara anggota. Karena kebijakan fiskal yang diambil suatu negara dapat berpengaruh pada negara anggota lain maka dilakukan pengaturan Fakta Stabilitas dan Pertumbuhan (SGP), diantaranya yaitu defisit tidak boleh lebih dari 3% dari GDP.

Melihat perkembangan yang ada, seolah-olah Uni Eropa mengarah pada sebuah ”negara”, namun buku ini menegaskan bahwa hal itu tidak terjadi, bahkan sebagai negara federal pun tidak. Uni Eropa lebih mengarah pada suatu sistem yang mengharmonisasikan kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat dan meningkatkan perekonomian negara-negara anggotanya, termasuk pula harmonisasi hukum dan sosial. Meskipun harus melepaskan beberapa kebijakan nasional, kedaulatan setiap negara anggota tetap dipertahankan.

:: 2007®eview by mc, awarded 2nd winner in 2007 my offc’s book review contest ::




0 Responses to “Uni Eropa: Menuju Sebuah ”Negara” Atau Sekedar Integrasi Ekonomi?”


  1. No Comments

Mirror Blog

 

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  


My BlogCatalog BlogRank

eMShi Blog at Blogged

Site Meter

Add to Technorati Favorites

Delicious Bookmark this on Delicious

Bookmark, Share and Post to Profile
on your facebook, myspace, etc

AddThis Feed Button
on your RSS feed readers

http://emshi.blog.friendster.com