Fantastis untuk sebuah film bertahan hingga lebih dari 4 minggu di layar 21 — dalam bioskop yang sama, hasil karya anak bangsa lagi, here is "Nagabonar (jadi) 2". Sejak awal kemunculannya memang sudah jadi perbincangan hangat, tidak sekedar mengangkat kembali nostalgia "Nagabonar" yang dulu (1986/1987) pernah sukses dengan Dedy Mizwar-nya, tapi juga menyemarakkan ragam film Indonesia di 21 yang saat ini sedang dihantui tema horor.
Tema nasionalisme yang diangkat justru menjadi menarik untuk menjadi tontonan alternatif, bahkan menjadi suatu edukasi atau sekedar reminder bagi bangsa kita mengenai apa itu nasionalisme, tentunya dalam kemasan hiburan yang menggelitik in serious context. Judul film yang tidak sekedar menambah angka 2 dibelakang juga punya arti khusus, Jadi 2 dimaksudkan pula bahwa Nagabonar (Dedy Mizwar) dalam masa kini telah mempunyai anak bernama Bonaga (Tora Sudiro). Bonaga digambarkan mempunyai sifat dasar yang kurang lebih sama dengan bapaknya si Nagabonar, namun dalam konteks kemodernan. Karena perbedaan latar masa lalu dan kekinian, seringkali muncul sedikit konflik antara bapak dan anak tersebut, walaupun sebenarnya mereka ada dalam sikap yang sama, dan hanya berbeda dalam penyampaian bahasa. Begitu kerasnya pertentangan sampai-sampai Nagabonar bilang bahwa Bonaga bukanlah anaknya, karena dianggap akan menjual tanah kuburan nenek moyangnya. Sebenarnya Bonaga tak bermaksud demikian, dan sangat menurut pada kemauan bapaknya, karena ia tak mungkin cari bapak lain semacam Nagabonar. Hal itu coba dijembatani oleh Monita (Wulan Guritno) kekasih Bonaga. Munculnya tokoh Monita, juga membuat film ini terisi dengan tema cinta.
Secara overall film ini agak kurang memuaskan, it just have half story IMO, well alur ceritanya kurang "kaya" n di beberapa scene agak membosankan dan membuat menunggu "come on go to next". Trio pemeran pendukung yang menjadi asisten Bonaga pun aktingnya very not natural, n kurang bagus scriptnya. Namun demikian ada beberapa scene yang apik, salah satunya yang boleh dibilang the best scene dan juga menggelitik rasa nasionalisme, adalah adegan saat Nagabonar meminta (patung) Jenderal Besar Sudirman menurunkan tangannya, karena tak semua orang yang lewat di jalan pantas ia hormati, dan seharusnya pengguna jalanlah yang menghormatinya. Hal lain yang menarik adalah idiom "Apa kata dunia?" yang kerap diucapkan Nagabonar bila ia merasa tidak pas dengan sesuatu. Sorry, for overal just rate it 3 out of 5. Special for adegan "Turunkan Tanganmu Jenderal", rate it 5 out of 5.




Recent Comments