IV.
Semuanya berjalan dengan biasa, bahasa kerennya," just go on the way, let it be what it be." Hingga akhirnya tiba saatku pulang kembali ke kotaku. Waktu itu aku coba mencari celah yang mungkin aku bisa sekedar mencari tahu apakah ada kesempatan itu, sekali lagi dalam bahasa kerennya," may be i can ask you out", setidaknya bersama dengan teman-teman lainnya. Tapi kayaknya kamu agak enggan atau akunya yang kurang berpromosi ria. Lagi-lagi dinginnya es, bikin aku tak sanggup untuk bercengkrama padahal dirimu ada di depan mata. Seharusnya hal ini tidak terjadi, seharusnya semua biasa saja atau memang sebenarnya ada sesuatu yang tidak biasa, di diriku bukan di dirimu. Silang-seling komunikasi buat semuanya tak menyambung, hingga akhirnya lagi-lagi semuanya berlalu," forget it, lah! may be there’s nothing and really nothing." Tak perlu lah mimpikan cinta dalam sepotong roti.
————————————————————————–
"Cinta dalam Sepotong Roti"
sebuah judul film
memang benar sebuah judul film saja
tapi apakah itu hanya sekedar judul film
karena pada kenyataannya
cinta itu memang ada pada sepotong roti
dua lapis roti diselipi selai berjuta rasa
mau rasa apa saja yang disuka
coklat, nanas, strawberry, kacang, atau cukup dengan selapis margarine
itu sih suka-sukanya yang punya cinta
kalo memang demikian apakah roti itu cukup hanya dipandangi saja
sepertinya sayang kalau ia tidak dinikmati
tapi jangan dimakan sendiri dong
biarkan si dia menikmatinya juga
bila perlu nikmati juta rasanya bersama walaupun roti itu hanya berselai satu rasa
nyem…nyem…nyem…nyem…nyem…nyem…
wah, kok ada yang liat-liat ya?
pengen nih… udah bikin aja sendiri
dan nikmati ia bersama cintamu
karena tak nikmat cinta dalam sepotong roti
tanpa ia di sisimu
‘Btm, 13 Mar 2R1
————————————————————————–
all parts n each © mc / btm, 23 agu 01 resumed
more on emshi.8m.com




0 Responses to “Dialektika Cinta, Aku dan Kamu — Segmen IV”
Leave a Reply
You must login to post a comment.